Selasa, 27 Desember 2011

Mengenai PR

Peran profesi public relations semakin bias tanpa adanya spesialisasi profesi sehingga diharapkan seorang praktisi PR memahami perannya dengan baik, bukan hanya sekedar pelengkap kerja dan pekerjaan rangkap seorang sekretaris direksi. Konsep,peranan petugas PR yang dikembangkan oleh Broom, kemudian dikembangkan oleh Bromm dan Smith (Dozier, 1992) Peran PR merupakan salah satu kunci penting untuk pemahaman fungsi PR dan komunikasi organisasi. .Ada beberapa fungsi dominan yang harus dilaksanakan seorang PR sejati antara lain berperan sebagai :
 
• Technician communication
Kebanyakan praktisi masuk ke bidang ini sebagai teknisi komunikasi. Deskripsi kerja dalam lowongan pekerjaan biasanya menyebutkan keahlian komunikasi dan jurnalistik, sebagai syarat. Teknisi komunikasi disewa untuk menulis dan mengedit newsletter karyawan, menulis news release dan feature, mengembangkan isi web, dan mengangani kontak media. Praktisi yang melakukanm peran ini biasanya tidak hadir disaat manajemen mendefinisikan problem dan memilih solusi. Mereka baru bergabung untuk melakukan komunikasi dan mengimplementasikan program, terkadang tanpa mengetahui secara menyeluruh motivasi atau tujuan yang diharapkan. Meskipun mereka tidak hadir saat diskusi tentang kebijakan baru atau keputusan manajemen baru, merekalah yang diberi tugas untuk menjelaskannya kepada karyawan dan pers.

• Expert Prescriber communication
Ketika para praktisi mengambil peran sebagai pakar/ahli, orang lain akan menganggap mereka sebagai otoritas dalam persoalan PR dan solusinya. Manajemen puncak menyerahkan PR di tangan para ahli dan manajemen biasanya mengambil peran pasif saja. Praktisi yang beroperasi sebagai praktisi pakar bertugas mendefinisikan probelm, mengembangkan program, dan bertanggung jawab penuh atas implemetasinya

• Communication facilitator
Peran fasilitator komunikasi bagi seorang praktisi adalah sebagai pendengar yang peka dan broker (perantara) komunikasi. Fasilitator komunikasi bertindak sebagai perantara (liason), interpreter, dan mediator antara organisasi dan publiknya. Mereka menjaga komunikasi dua arah dan memfasilitasi percakapan dengan menyingkirkan rintangan dalam hubungan dan menjaga agar saluran komunikasi tetap terbuka. Tujuannya adalah memberi informasi yang dibutuhkan oleh baik itu manajemen maupun publik untuk membuat keputuasan demi kepentingan bersama. Praktisi yang berperan sebagai fasilitator komunikasi ini bertindak sebagai sumber informasi dan agen kontak resmi antara organisasi dan publik. Mereka menengahi interaksi, menyusun agenda mendiagnosis dan memperbaiki kondisi-kondisi yang menganggu hubungan komunikasi di antara kedua belah pihak. Fasilitator komunikasi menempati peran di tengah-tengah dna berfungsi sebagai penghubung antara organisasi dan publik.

• Fasilitator Pemecah Masalah
Ketika praktisi melakukan peran ini, mereka berkolaborasi dengan manajer lain untuk mendefinisikan dan memecahkan masalah. Mereka menjadi bagian dari tim perencanaan strategies. Kolaborasi dan musyawarah dimulai dengan persoalan pertama dan kemudian sampai ke evaluasi program final. Praktisi pemecah masalah membantu manajer lain untuk dan organisasi untuk mengaplikasikan PR dalam proses manajemen bertahap yang juga dipakai untuk memecahkan problem organisasional lainnya.

Spesialisasi dunia kerja 
Sedangkan peran dalam pekerjaan itu sendiri tidak bisa dianggap mudah membuthkan adanya ketelitian dan keuletan sehingga menghasilkan pencapaian yang maksimal yang antara lain :

• Menulis dan Mengedit: Menyusun rilis berita dalam bentuk cetak atau siaran, cerita feature, newsletter untuk karyawan dan stakeholder ekternal, korespondesi, pesan website dan pesan media online lainnya, laporan tahunan shareholder, pidato, brosur, film dan scipts slide-slow, artikel publikasi perdagangan, iklan institusional, dan materi-materi pendukung teknis lainnya

• Hubungan Media dan Penempatan Media: mengkontak media koran, majalah, suplemen mingguan, penulis freelance, dan publikasi perdagangan agar mereka memublikasikan atau menyiarkan berita dan feature tentang organisasi yang ditulis oleh organisasi itu sendiri atau oleh orang lain. Merespons permintaan infromasi oleh media, memverifikasi berita, dan membuka akses ke sumber otoritatif

• Riset: mengumpulkan infromasi tentang opini publik, tren, isu yang sedang muncul, iklim politik dna peraturan-peraturan perundangan, liputan media, opini kelompok kepentingan dan pandangaan-pandangan lain berkenaan dengan stakeholder organisasi. Mencari database di internet, jasa online, dan data pemerintah elektronik. Mendesain riset program, melakukan survei, dan menyewa perusahaan riset

• Manajemen dan Administrasi: Pemrograman dab perencanaan dengan bekerja sama manager lain; menentukan kebutuhan, menentukan prioritas, mendefinisikan publik, setting dan tujuan, dan mengembangkan strategi dan taktik. Menata personel, anggaran, dan jadwal program

• Konseling: memberi saran kepada manajemen dalam masalah sosial, politik, dan peraturan, berkonsultasi dengan tim manajemen mengenai cara menghindari atau merespons krisis; dan bekerja bersama pembuat keputusan kunci untuk menyusun strategi untuk mengelola atau merespons isu-isu yang sensitif dan kritis

• Acara Spesial: mengatur dan mengelola konferensi pers, lomba lari 10K, konvensi, open house, pemotongan pita dan grand opening, perayaan ulang tahun, acara pengumpulan dana, mengunjungi tokoh terkemuka, mengadakan kontes, program penghargaan, dan kegiatan khusus lainnya.

• Pidato: tampil di depan kelompok, melatih orang untuk memberikan kata sambutan dan mengelola biro juru bicara untuk menjelaskan platfom organisasi di depan audien penting.

• Produksi: membuat saluran komunikasi dengan menggunakan keahlian dan pengetahuan multimedia, termasuk seni, tipografi, fotografi, tata letak, dan computer desktop publishing; perekaman audio dan video dan editing, dan menyiapkan presentasi audiovisual

• Training: mempersiapkan eksekutif dan juru bicara lain untuk menghadapi meda dan tampil di hadapan publik. Memberi petunjuk kepada ornag lain dalam organisasi untuk meningkatkan keahlian menulis dan berkomunikasi. Membantu memperkenalkan perubahan kultur, kebijakan, struktur, dan proses organisasional

• Kontak: sebagai penghubungan(liason) dengan media, komunitas, dan kelompok internal dan ekternal lainnya. Sebagai mediator antara organisasi dan stakeholder penting dengan bertugas untuk mendengarkan, menegosiasikan, mengelola konflik, dan menjalin kesepakatan. Sebagai tuan rumah dengan melakukan pertemuan dan jamuan untuk tamu dan pengunjung.

Manfaat dan peran PR 
Selain peran dominan dan peran profesional bisa dilaksnakan dengan komitmen sehingga bisa tercapai tujuan manajerial dan operasional organisasi :

  1. Membuat organisasi bersikap responsif terhadap kepentingan publik dan kontribusinya kepada sistem informasi publik yang amat penting bagi masyarakat demokratis dan kelangsungan hidup organisasi.
  2. Membantu dan mempertahankan hubungan antara publik dengan manajemen oraganisasional yang memerhatikan tanggung jawab sosial dan kepemimpinan yang bermoral
  3. Membantu organisasi untuk mengantisipasi dan merespons persepsi dan opini publik. Merespon nilai dan gaya hidup yang baru, merespons pergeseran di antara elektorat dan di dalam lembaga legislatif, dan merespos perubahan-perubahan lain di lingkungan.
  4. Membuat informasi menjadi tersedia melalui sistem informasi publik. Dan juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ke publik dengan mendukung pernyataan pendapat dan debat pasar ide yang kompetitif.
  5. Melayani kepentingan publik dengan sudut pandang alternatif dalan forum publik, termasuk suara dari orang-orang yang diabaikan oleh media massa.
  6. Membantu masyarakat dengan menjadi perantara konflik dan membangun konsensus yang dibutuhkan untuk ketertiban sosial.
  7. Memfasilitasi atau membantu penyesuaian dan pemiliharaan dalam sistem sosial yang memberi kita kebutuhan sosial dan fisik

Fungsi PR
 Pada hakikatnya PR adalah aktiftas. maka sebenarnya tujuan PR dapat dianalogikan dengan tujuan komunikasi yakni adanya penguatan dan perubahan kognisi, apeksi dan prilaku komunikasintya. namun kata "relations" menunjukan kata kerja aktif maka harus dilihat dari dua kepentingan yaitu organisasi dan publik sehingga tujuan PR adalah terpeliharanya dan terbentuknya saling penegrtian (aspek kognisi), menjaga dan membentuk saling percaya (aspek afeksi) dan memellihara serta menciptakan kerjasama (aspek psiomotoris)

Bagian-Bagian dari Fungsi PR:

• Hubungan Internal, adalah bagian khusus PR yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara manajer dan karyawan tempat organisasi mengantungkan kesuksesannya.

• Publisitas, adalah sumber-sumber informasi yang disediakan oleh PR dan digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita. Metode penempatan pesan di media ini adalah pesan di media ini adalah metode yang tak bisa dikontrol (uncontrolled) sebab sumber informasi tidak memberi bayaran kepada media untuk pemuatan informasi tersebut.

• Advertising, informasi yang digunakan oleh PR untuk menjangkau audien yang lebih luas, bukan untuk konsumen yang menjadi sasaran marketing, dimana informasi yang ditempatkan di media oleh sponsor tertentu yang jelas identitasnya yang membayar ruang dan waktu penempatan informasi tersebut. Ini adalah metode terkontrol dalam menempatkan pesan di media.

• Press Agentry,adalah penciptaan berita dan peristiwa yang bernilai berita untuk menarik media massa dan mendapatkan perhatian publik. Banyak praktisi PR kadang-kadang menggunakan taktik press agentry untuk menarik perhatian media kepada kliennya, organisasinya, atau tujuannya. Tetapi PR lebih dari sekedar press agentry.

• Public Affairs adalah bagaian khusus dari PR yang membangun dan mempertahankan hubungan pemerintah dan komunitas lokal dalam rangka memengaruhi kebijakan publik.

• Lobbying adalah bagian khusus dari PR yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintah terutama dengan tujuan memengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi.

• Manajemen Isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengindentifikasi, mengevaluasi, dan merespon isu-isu kebijakan publik yang memengaruhi hubungan organisasi dengan publik mereka. Secara administratif atau secara konseptual, manajemen isu adalah bagian fungsi PR, akan tetapi, jika dilihat sebagai komunikasi persuasif, ia menjadi taktik untuk memengaruhi kebijakan publik, bukan sebagai bagian dari perencanaan strategi organisasi.

• Hubungan Investor adalah bagian dari PR dalam perusahaan korporat yang membangun dan menjaga hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan dengan shareholder dan pihak lain di dalam komunikasi keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai pasar

• Pengembangan adalah bagian khusus dari PR dalam organisasi nirlaba yang bertugas membangun dan memelihara hubungan dengan donor dan anggota dengan tujuan mendapatkan dana dan dukungan sukarela

Perbedaan PR dan Pemasaran.
Meski tidak selalu didefiniskan secara jelas dalam praktiknya, marketing dan PR dapat dibedakan secara konseptual dan hubungannya dijelaskan.
• Keinginan dan kebutuhan orang adalah aspek fundamental bagi konsep marketing.
• Apa yang orang orang inginkan atau butuhkan akan diterjemahkan sebagai permintaan konsumen.
• Pemasar menawarkan produk dan jasa untuk memuaskan permintaan tersebut. Konsumen memilih produk dan jasa yang memberikan kegunaan, nilai, dan kepuasan paling besar.
• Terakhir, pemasar menyerahkan produk dan jasa kepada konsumen untuk ditukar dengan sesuatu yang bernilai

Menurut ahli pemasaran Philip Kotler:”Pertukaran, yang merupakan inti dari konsep marketing, adalah proses mendapatkan produk yang diinginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu yang sebagai imbalannya."(Philp Kotler, Marketing Management,11, th ed.(Upper Saddle River,NJ:Prentice Hall,2003),12.

Transaksi inilah yang membedakan fungsi marketing-dua pihak saling menukar sesuatu yang bernilai bagi kedua belah pihak. Ringkasnya marketing menciptakan hubungan di mana pertukaran terjadi-kepemilikan berpindah tangan. Tujuan marketing adalah menarik dan memuaskan konsumen secara terus menerus dalam rangka mengamankan “pangsa pasar”dan mencapai tujuan ekonomi perusahaan. Untuk tujuan itu, publisitas produk dan hubungan media digunakan untuk mendukung marketing. Karena spesialis PR biasanya tahu cara menulis untuk media itu, dan tahu cara bekerja menghadapi wartawan, serta tahu merancang dan mengimplementasikan program komunikasi internal, maka pemasar meminta bantuan PR dalam menjalankan program marketingnya. Ringkasnya PR yang efektif memberikan kontribusi kepada upaya marketing dengan menjada lingkungan politik dan sosial agar tetap ramah kepada perusahaan/organisasi.

Fungsi manajemen PR

• Memperkirakan, menganalisis, dan menginterpretasikan opini dan sikap publik, dan isu-isu yang mungkin mempengaruhi operasi dan rencana organisasi, baik itu pengaruh buruk maupun baik

• Memberi saran kepada manajemen di semua level di dalam organisasi sehubungan dengan pembuatan keputusan, jalannya tindakan, dan komunikasi, dan mempertimbangkan ramifikasi publik dan tanggung jawab sosial atau kewarganegaraan organisasi

• Meriset, melaksanakan, dan mengevaluasi secara rutin program-program aksi dan komunikasi untuk mendapatkan pemahaman publik yang dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman publik yang dibutuhkan untuk kesuksesan tujuan organisasi. Ini mungkin mencakup program marketing, finansial, pengumpulan dana, karyawan, komunikasi atau hubungan pemerintah, dan program-program lain

• Merencanakan dan mengimplementasikan usaha organsasi untuk memengaruhi atau mengubah kebijakan publik

• Menentukan tujuan, rencana anggaran, rekrutmen dan training staf, mengembangkan fasilitasnya-ringkasnya, mengelola sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan semua hal tersebut di atas

• Contoh-contoh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam praktik PR profesional adalah seni komunikasi, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, ilmu politik, ekonomi, dan prinsip manajemen dan etika. Pengetahuan teknis dan keahlian teknik dibutuhkan untuk meriset opini, analisis isu publik, relasi media, direct mail, publikasi advertising institusional, produksi film/video, acara spesial, pidato, dan presentasi.

Dalam membantu mendefinisikan dan mengimplementasikan kebijakan, praktisi PR menggunakan beragam keahlian komunikasi profesional dan memainkan peran intergratif baik itu di dalam organisasi maupun antara organisasi dan lingkungan eksternal.

PR dalam dunia praktik 
Terakhir berperan dalam komunikasi dengan masyarakat secara universal berperan dalam berbagai bidang profesionalisme organinsasi. Public Relation (PR) membantu masyarakat kita yang kompleks dan pluralistik untuk menentukan keputusan dan menjalankan fungsi secara lebih efektif dengan memberikan kontribusi pemahaman bersama di antara kelompok dan institusi. PR berfungsi untuk menyelaraskan kebijakan publik dan privat. PR, melayani berbagai macam institusi di dalam masyarakat, seperti institusi bisnis, serikat perdagangan, agen pemerintahan, asosiasi sukarela, yayasan, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, dan institusi-institusi tersebut harus mengembangkan hubungan yang efektif dengan banyak audien atau publik yang berbeda-beda, seperti karyawan, anggota suatu kelompok, konsumen, komunitas lokal, shareholder, dan institusi lain dengan masyarakat yang lebih luas.

Manajemen institusi harus memahami sikap dan nilai yang dianut publik mereka dalam rangka meraih tujuan institusionalnya. Tujuan itu sendiri dibentuk oleh lingkungan eksternal. Praktisi PR bertindak sebagai konselor bagi manajemen dan sebagai mediator, membantu menerjemahkan tujuan privat ke dalam kebijakan dan tindakan yang masuk akal dan bisa diterima oleh publik.(http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2010/08/peran-profesional-public-relations.html)

Sabtu, 17 Desember 2011

hubungan sosiologi pembangvunan dengan dakwah


Pendahuluan.
Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi atau yang sering di sebut dengan IPTEK, sanggat mempengaruhi perkembangan masyarakat, bagi masyarakat yang tidak mampu mengimbanginya maka akan semakin tertingal, upaya untuk meninggkatkan pendidikan selalu di upayakan pemerintah. Pembagunan masyarakat dari berbagai aspek kehidupan slalu di upayakan dengan tujuan agar tercipta masyarakat yang mandiri dan mampu bersaing, dalam hal ini ilmu sosiologi  adalah cara menggerakkan masyarakat untuk mendukung pembangunan dan masyarakat adalah sebagai tenaga pembangunan, dan dampak pembangunan.
 Sosiologi pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran para ahli sosiologi klasik seperti Marx Weber dan Durkheim. Sosiologi pembangunan juga membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Menurut Soerjono Soekanto, pengetahuan sosiologi dapat diterapkan dan berguna untuk kehidupan sehari-hari, misalnya untuk memberikan data-data sosial yang diperlukan pada tahapan perencanaan, pencaharian, penerapan dan penilaian proses pembangunan.
Pada tahap perencanaan hasil penelitian sosiologi dapat digunakan sebagai bahan pada tahap evaluasi. Pada tahap penerapan, perlu diadakan identifikasi terhadap kekuatan sosial yang ada di dalam masyarakat. Dengan mengetahui kekuatan sosial tersebut dapat diketahui unsur-unsur yang dapat melancarkan pembangunan dan yang menghalangi pembangunan.
Dalam berinteraksi dan mengajak masyarakat sanggat dibutuhkan metode yang sanggat tepay agar pembangunan tersebut berjalan sesuai yang di rencanakan, maka dari itu Ilmu dakwah sanggat di butuhkan karena di dalam ilmu dakwah di pelajari bagaimana kita mengajak dan mempengaruhi Mad`u. Maka dari itu di dalam makalah ini akan membahas Apa hubungan sosiologi pembangunan dengan ilmu dakwah sehingga kita bisa mengetahui hubungan tersebut.
Rumusan masalah
  1. Apa yang di maksud dengan ilmu dakwah?
  2. Apa yang di maksud dengan sosiologi?
  3. Apa yang di maksud pembangunan?
  4. Apa yang di maksud dengan sosiologi pembangunan?
  5. Apa hubungan sosiologi pembangunan dengan ilmu dakwah?

A.  Pembahasan
  1. Ilmu dakwah.
Ilmu dakwah adalah pengetahuan yang berasal dari allah yang di kembangkan umat islam dalam susunan yang sestematis dan terorganisir mengenai bagaimana melaksanakan kuwajiban dakwah dengan tujuan beriktiar mewujudkan kuirulumah.[1]
Pengertian ilmu dakwah adalah ilmu yang mempelajari proses penyampaian ajaran Islam kepada umat. Ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntunan tentang bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk menganut, melaksanakan,ideologi, pendapat, pekerjaan tertentu (Toha Yahya Oemar).
Dengan kata lain ilmu dakwah memiliki aspek kajian khusus yang terdiri dari:
a)      Kajian masalah yang berkaitan dengan kegiatan tablik islam atau penyiaran yang menerangkan islam atau komunikasi yang menyiarkan islam.
b)      Kajian masalah yang berkaitan dengan pengembangan masyarakat islam.
c)      Kajian masalah yang berkaitan dengan manajemen dakwah islam di dalam suatu masyarakat.[2]
Jadi bisa di simpulkan bahwasanya dalam objek kajianya terdapat komunikasi, membangun masyarakay dan menkaji suatu masalah yang ada di dalam masyarakat.
b. Definisi sosiologi
a)      Berdasarkan etimologi (kebahasaan/asal kata)
Secara kebahasaan nama sosiologi berasal dari kata socious, yang artinya ”kawan” atau ”teman” dan logos, yang artinya ”kata”, ”berbicara”, atau ”ilmu”. Sosiologi berarti berbicara atau ilmu tentang kawan.
Soerjono sukamto sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola umum kehidupan masyarakat.[3]
Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari:
a.       Hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan sebagainya.
b.      Hubungan dan pengaruh timbal-balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial, misalnya pengaruh iklim terhadap watak manusia, pengaruh kesuburan tanah terhadap pola migrasi, dan sebagainya, dan
c.       Ciri-Ciri umum dari semua jenis gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam bukunya yang berjudul Setangkai Bunga Sosiologi menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang berbagai hubungan antar-manusia yang terjadi di dalam masyarakat. Hubungan antar-manusia dalam masyarakat disebut hubungan sosial.
Struktur sosial merupakan jalinan atau konfigurasi unsur-unsur sosial yang pokok dalam masyarakat, seperti:
a)      Kelompok-kelompok social.
b)      Kelas-kelas social.
c)      Kekuasaan dan wewenang.
d)     Lembaga-lembaga sosial maupun nilai dan norma sosial.
 Proses sosial merupakan hubungan timbal-balik di antara unsur-unsur atau bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat melalui interaksi antar-warga masyarakat dan kelompok-kelompok. Sedangkan perubahan sosial meliputi perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur sosial dan proses-proses social.
c. Pembangunan.
Pembangunan adalah sumua proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana. Sedangkan perkembangan adalah proses perubahan yang terjadi secara alami sebagai dampak dari adanya pem­bangunan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).
 Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan sosial berencan, karena meliputi berbagai dimensi untuk mengusahakan kemajuan dalam kesejahteraan ekonomi, modernisasi, pembangunan bangsa, wawasan lingkungan san bahkan peningkatan kualitas manusia untuk memperbaiki kualitas hidupnya (Bintiro Tjokroamidjojo).
 Pembangunan dapat diartikan sebagai `suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk me­menuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004)
Pembangunan juga dapat di artikan perubahan yang verguna menujusuatu sestem sosial dan ekonomi yang di putuskan sebagai kehendak sari suatu bangsa.[4]
Teori Dependensi. Dua teori ini saling bertolak belakang dan merupakan sebuah pertarungan paradigma hingga saat ini. Teori modernisasi merupakan hasil dari keberhasilan Amerika Serikat dalam membawa pembangunan ekonomi di negara-negara eropa. Sedangkan kegagalan pembangunan di Afrika, Amerika Latin dan Asia menjadi awal lahirnya teori dependensi.
Teori Modernisasi berasal dari dua teori dasar yaitu teori pendekatan psikologis dan teori pendekatan budaya. Teori pendekatan psikologis menekankan bahwa pembangunan ekonomi yang gagal pada negara berkembang disebabkan oleh mentalitas masyarakatnya. Menurut teori ini, keberhasilan pambangunan mensyaratkan adanya perubahan sikap mental penduduk negara berkembang. Sedangkan teori pendekatan kebudayaan lebih melihat kegagalan pembangunan pada negara berkembang disebabkan oleh ketidaksiapan tata nilai yang ada dalam masyarakatnya. Secara garis besar teori modernisasi merupakan perpaduan antara sosiologi, psikologi dan ekonomi. Teori dasar yang menjadi landasan teori modernisasi adalah ide Durkheim dan Weber.
Kritik terhadap teori modernisasi lahir seiring dengan kegagalan pembangunan di negara dunia ketiga dan berkembang menjadi sebuah teori baru yaitu teori dependensi. Frank (1984) mencoba mengembangkan teori dependensi dan mengemukakan pendapat bahwa keterbelakangan pada negara dunia ketiga justru disebabkan oleh kontak dengan negara maju. Teori dependensi menjadi sebuah perlawanan terhadap teori modernisasi yang menyatakan untuk mencapai tahap kemajuan, sebuah negara berkembang harus meniru teknologi dan budaya negara maju. Frank memberikan kritiknya terhadap pendekatan-pendekatan yang menjadi rujukan teori modernisasi, antara lain pendekatan indeks tipe ideal, pendekatan difusionis dan pendekatan psikologis.
            Teori dependensi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang kapitalisme dan konflik kelas. Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan kapitalisme adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh yang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakat tanpa kelas.
d. Apa yang di maksud dengan sosiologi pembangunan?
Sosiologi pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim. Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan pembangunan dunia ketiga tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti sosial untuk mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang kegagalan pembangunan pada negara dunia ketiga.[5]
Sosiologi pembangunan membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Menurut Webster, terdapat lima dimensi yang perlu diungkap antara lain :
1.      Posisi Negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negar-negara lain.
2.      Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.
3.      Hubungan antara proses budaya dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.
4.      Aspek sejarah dalam proses pembangunan atau perubahan social yang terjadi.
5.      Penerapan berbagai teori perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada negara-negara berkembang.[6]
Pada masa sekarang ini , konsep pembangunan sudah merupakan suatu ideologi yang menggambarkan kegiatan-kegiatan dalam upaya mengejar pertumbuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pembangunan sangat berhubungan dengan soiologi pembangunan. Dalam suatu proses pembangunan perlu adanya kemauan keras serta kemampuan untuk memanfaatkan potensi-potensi yang tersedia dalam masyarakat untuk keperluan pembangunan. Berbagai perencanaan perlu disusun dan digelar dalam rangka menghimpun kekuatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha mencapai tingkat kesejahteraan lebih tinggi.
            Selain itu sosiologi pembanguan juga menimbulkan hubungan interaksi pada masyarakat. Interaksi tersebut menimbulkan adanya gotong royong. Aktivitas gotong royong dalam berbagai dimensi memberikan implikasi semangat dan value untuk saling memberikan jaminan atas hak dan kelangsungan hidup antar sesama warga masyarakat yang masih melekat cukup kuat.
Dalam setiap pembangunan terdapat berbagai tahapan. Dalam sosiologi pembangunan terdapat beberapa tahapan antara lain :
  1. Perencanan
Pada tahap ini faktor yang harus diperhatikan adalah apa yang menjadi kebutuhan sosial.
Seperti :
-          Pusat perhatian sosial
-          Stratifikasi sosial
-          Pusat kekuasaan
-          Sistem dan saluran komunikasi sosial
  1. Pelaksanaan
Dalam proses pelaksanaan yang harus dilihat adalah kekuatan sosial dalam masyarakat serta proses perubahannya.
  1. Evaluasi
Dalam tahap evaluasi yang harus dilakukan adalah analisis atau penilaian terhadap dampak sosial dari pembangunan tersebut.
Dalam setiap pembangunan dilakukan prosedur yang sedemikian rupa agar setiap pembangunan berjalan sesuai dengan perkembangan sosial yang terjadi di dalam masyarakat.

e. Hubungan sosiologi pembangunan dengan ilmu dakwah.
Jika dilihat secara sekilas maka dari kedua disiplin ilmu di atas tidak ada hubunganya sama sekali, sosiologi pembangunan adalah cara menggerakkan masyarakat untuk mendukung pembangunan dan masyarakat adalah sebagai tenaga pembangunan, dan dampak pembangunan. Sedangkan ilmu dakwah Ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntunan tentang bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk menganut, melaksanakan,ideologi, pendapat, pekerjaan tertentu.
  Namun jika di telusuri secara mendalam terdapat hubungan yang sanggat urgen karena untuk menciptakan pembangunan di dalam suatu masyarakat akan lebih berhasil atau mendapatkan hasil seperti yang kita ingginkan jika kita bisa mengajak, mempengaruhi suatu masyarakat tersebut, maka dari itu hal-hal seperti itu selain di pelajari di dalam ilmu sosiologi juga di pelajari di dalam ilmu dakwah, tentang bagai mana cara mengajak dengan baik menanamkan penggaruh dll, apa lagi jika pembangunan tersebut lebih ke arah pencerdasan masyarakat, itu lebih bisa di pastikan pembangunan akan berhasil.
Sedangkan jika dilihat dari aspek subyek dan obyek dakwah yang terikat dalam hubungan kemasyarakatan, maka dalam hal ini ilmu dakwah akan berpapasan dengan ilmu sosiologi yang memiliki wilayah garapan kehidupan manusia yang terikat dalam satu kesatuan yang stabil dan teratur melalui bingkai kemasyarakatan.
  1. Jika sosiologi pembangunan dimaknai sebagai ilmu yang mempelajari mengenai kehidupan yang sifatnya membangun bersama dalam masyarakat , maka dalam hal ranah ilmu dakwah yang mempelajari aturan-aturan cara bagaimana seharusnya membangun masyarakat dengan ilmu-ilmu agama.
  2. Jika sosiologi pembangunan dimaknai sebagai ilmu yang menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia berikut permasalahan yang mengitarinya , maka dalam hal ini, ranah ilmu dakwah yang membahas masalah kejahatan sosial persoalan keluarga perputaran ekonomi hingga masalah integritas atau disintegritas masyarakat dapat didekati melalui pisau analisis keislaman
  3. Jika sosiologi dimaknai sebagai ilmu yang mempelajari struktur dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial yang terjadi di dalamnya , maka dalam ranah tujuan normatif dakwah yang menekankan aspek perubahan sosial berbagai fenomena dan gejala perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat islam dapat ditelaah dan dianalisis melalui kacamata sosiologi.
Selain itu Sosiologi membahas fenomena-fenomena yang  ada dimasyarakat, Salah satunya bagaimana dakwah digunakan untuk mencapai sesuatu dalam masyarakat, Kita ambil contoh,Di sebauh pabrik yg rutin mengadakan sholat jum'at bersama, Isi dari dakwah nya pada umumnya berkaitan dengan bekerja, giat bekerja dan bagaimana agama menilai orang yg bekerja, sehingga para pekerja lebih termotivasi untuk lebih produktif dan progresif.
B. Kesimpulan
Ilmu dakwah adalah ilmu yang mempelajari bagai mana caranya menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia dengan cara yang di ajarkanoleh Allah dan Rosulnya sehingga terciptanya keberhasilan dalam penyampaian pesan.
Sedangkan sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan maksudnya ilmu yag mempelajari hubungan manusia didalam suatu masyarakat angar terciptanya suatu hubungan yang dinamis. Adapun pembaguana adalah upaya untuk menciptakan kesejahteran suatu masyarakat dari berbagai aspek kehidupan. Jika dari ke dua disiplin ilmu ini di artikan mada tapat di tarik definisi singkat yaitu, ilmu yang berusaha mempelajari bagaimana meningkatkan taraf hidup di suatu masyarakan dengan mengunakan pendekatan antar masyarakat.
Adapun Hubungan dari sosiologi pembangunan dengan ilmu dakwah adalah, ilmu dakwah merupakan disiplin ilmu yang berderan penting dalam membantu pembangunan di suatu masyarakat kususnya dalam bidang pendidikan, keagaman, bahkan dalam bidang  perekonomian.















C. Daftar pustaka.
Dr. Phil, Astrid S. Susanto, 1998, Sosiologi Pembangunan, Bina Cipta, Jakarta
Everett M. Roges, 1985, Komunikasi Dan Pembangunan,  LP3ES, Jakarta
Kahmad Dadang, 2006, Sosiologi Agama , Rosa,  Bandung
M. Musrin,1996,  DIKTAT (Ilmu Dakwah),Palembang.


[1] . Musrin, 1996,  Ilmu Dakwah, hal 12
[2] . Ibid, hal 11
[3]. Suryati M.Pd. 2009, Sosiologi (Pengantar Di Perguruan Tinggi), hal 40
[4]. Everett M. Roges, 1985, Komunikasi Dan Pembangunan,  hal 2  
[6]. Ibid

Senin, 21 November 2011

Dakwah BIL QOLAM

MENUMBUHKAN SEMANGAT DAKWAH BIL-QOLAM
DI KALANGAN UMAT ISLAM

Istilah dakwah bil qolam mungkin tidak sepopuler dengan istilah dakwah bi lisan. Padahal keduanya mempunyai esensi yang sama, yaitu menyeru (berdakwah) umat manusia menuju kebaikan.
Secara istilah, dakwah bil qolam berasal dari dua suku kata, dakwah, artinya ajakan dan qolam, artinya pena atau tulisan. Kata dakwah itu sendiri berasal dari da’a - yad’u - da’watan, artinya seruan, ajakan atau panggilan.  Secara terminoligis dakwah adalah menyampaikan seruan Islam, mengajak dan memanggil umat manusia agar menerima dan mempercayai keyakinan dan pandangan hidup Islam. Sebagaimana firman Allah swt :
“serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (qs. An-nahl : 125).
Adapun kata qolam merujuk kepada firman Allah swt surat al-qolam ayat 1 : “nun, perhatikanlah al-qolam dan apa yang dituliskanny.”. Qolam dalam ayat tersebut diterjemahkan sebagai pena (sebuah alat untuk menulis). Jadi, dakwah bil qolam maksudnya dakwah dengan menggunakan pena, atau tulisan melalui buku, artikel, buletin dan sebagainya. Karena melalui tulisan, dakwah bil qolam ini sering diidentikan dengan dakwah bil kitabah (dakwah melalui tulisan). Perbedaannya untuk yang pertama menunjukan subjek, senjata, atau alat. Adapun yang kedua menunjukan kepada objek, hasil atau produk gagasan.

Peran Strategis Media Informasi
Di era informasi seperti sekarang ini, media massa baik cetak maupun elektronik (internet) mempunyai kedudukan yang sangat penting. Selain sebagai media informasi yang menyuguhkan berbagai informasi dan berita-berita aktual, kehadirannya juga merupakan alat yang strategis untuk membentuk opini publik (public opinion) yang mempengaruhi dan mengendalikan pikiran, sikap dan perilaku manusia. Karena hampir ratusan atau bahkan ribuan orang setiap harinya berinteraksi dengan media massa.
Karena begitu strategisnya, media massa dijadikan sebagai sumber baru kekuasaan karena informasi di tangan banyak orang (the new source of power is information in the hand of many), dan siapa yang menguasai media massa, dialah pengendali dan penguasa dunia. Jalan pikiran dan sikap warga dunia bisa dikendalikannya melalui pembentukan opini publik.
Dalam kenyataan sekarang, arus informasi dunia dikuasai dan dikendalikan oleh the order (orang di luar Islam) yang memandang Islam sebagai musuh besar yang harus dilawan dan dihancurkan. Mereka melakukan “penjajahan” informasi melalui perang pemikiran dan budaya (ghazwul fikri dan tsaqofi), yakni mensosialisasikan nilai-nilai, pemikiran, dan budaya mereka ke dunia Islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat Islam cenderung lebih berkiblat ke barat daripada taat pada aturan Islam. Hasilnya, paham-paham seperti materialisme, sekularisme, dan hedonisme telah banyak merasuki pola pikir dan tatanan kehidupan umat Islam saat ini.
Di satu pihak, umat Islam tidak memiliki ghiroh (semangat) untuk menjadikan media massa sebagai sarana strategis dalam memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam. Akibatnya, umat Islam hanya menjadi konsumen dan rebutan media massa lain yang tak jarang membawa informasi yang menyesatkan.
Realitas mengatakan, dari sekian banyak ulama Islam, sedikit sekali yang bergelut dalam dunia dakwah bil qolam. Kebanyakan dari mereka piawai melakukan dakwah dengan cara yang bilisan seperti, ceramah, tabligh, dan khutbah. Namun, tidak piawai menuangkannya dalam sebuah bentuk tulisan  terlebih lagi berusaha untuk mempublikasikannya dalam media massa.
Padahal, kalau melihat sejarah peradaban Islam, banyak ulama salaf yang mengabadikan dan menyebarluaskan pandangan-pandangan keIslamannya melalui tulisan (dakwah bil qolam). Mereka telah melahirkan sejumlah “kitab kuning” yang sampai saat ini masih digunakan sebagai buku teks kaum santri di pondok pesantren.
Sebagaimana kita ketahui, kemampuan menulis menjadikan seorang imam as-syafi’i bisa mewariskan ilmunya melalui kitab al-um, imam al-asqolani dengan kitabnya al-itqon, imam al-zamakhsary dengan kitab tafsir al-kasysyafnya, begitu juga dengan imam al-ghazali dengan kitabnya ihya ulumuddin, dan masih banyak lagi.
Dari kalangan ulama kontemporer, sebut saja misalnya yusuf qardhawi, muhammad abduh, jamaludin al-afgani. Mereka telah menggelorakan semangat pembaharuan dan kebangkitan Islam melalui dakwah bil qolam. Mereka mengetahui dan menyadari bahwa dakwah bil qolam merupakan sunnah yang harus diikuti dan dilestarikan.  Sebagaimana dicontohkan oleh nabi muhammad saw ketika beliau menulis surat yang berisi ajakan masuk Islam kepada kaisar persia.
Karena perannya sangat penting dan strategis, dakwah bil qolam semestinya menjadi perhatian serius umat Islam saat ini. Para ulama, muballig, ustad harus mampu menuangkan pandangan-pandangan keIslamannya dalam bentuk tulisan, baik dalam buku, koran atau media internet. Hal ini bisa dilakukan tanpa meninggalkan dakwah melalui format lama seperti khutbah, tabligh, ceramah dan dakwah bil hal.
Dakwah melalui tulisan mempunyai keunggulan dibandingkan dakwah dengan bentuk lain. Sebagai ilustrasi, ketika seorang muballig mengadakan pengajian di lapangan terbuka, maka yang dapat mendengarkan “hanya” sekitar 10 ribu orang. Tetapi, jika materi ceramahnya itu ditungankan dalam bentuk tulisan yang dipublikasin dalam media massa, maka materi tersebut dapat dibaca oleh seluruh umat yang ada di pelosok negeri ini, yang jumlahnya berlipat-lipat dari yang hadir di lapangan tadi.
Keunggulan lainnya, sebuah tulisan tidak akan punah dan lekang dari laju zaman dan waktu. Bahkan dengan tulisan, seseorang akan dikenang jasanya, diamalkan filsafahnya, yang semua itu akan menjadi amal jariah yang tidak pahalanya akan terus mengalir meskipun penulisnya sudah meninggal dunia.

Bagaimana memulai dakwah dengan cara tulisan?
Memulai kegiatan dakwah dengan tulisan, adalah dengan cara memulai menulis materi dakwah dalam bentuk naskah. Naskah adalah produk dari kegiatan menulis. Kegiatan menulis itu sendiri, biasanya diawali karena adanya ide atau pikiran. Suatu ide atau pikiran akan muncul karena adanya kegiatan membaca. ”Membaca” dalam arti luas tentunya, bukan ”membaca” teks saja, tetapi ”membaca” (mengamati) lingkungan sekitar.
Membaca dan menulis adalah kegiatan yang saling mendukung satu sama lainnya, ibarat dua sisi keping mata uang logam. Sehingga, untuk dapat menumbuhkan hasrat untuk menulis, harus diawali dengan menumbuhkan semangat membaca. Karena, tanpa adanya kegiatan membaca, ide atau pikiran yang akan dituangkan dalam tulisan pun tidak akan muncul.
Berikut ini adalah tips menumbuhkan semangat menulis materi dakwah yang bersumber dari berbagai tulisan.
Pertama, tulis apa yang kita ingat, baik yang pernah kita sampaikan dalam ceramah, ataupun yang kita ingat dari apa yang pernah kita baca. Jangan takut salah menulis. Bermutu ataupun tidak hasil tulisan tersebut, yang penting ”menulis” dulu, makin sering menulis, Insya Allah, tulisan kita akan berkembang menuju perubahan yang lebih baik. Karena,  banyak para penulis besar yang lahir dari pengalaman menulis secara otodidak bukan dari belajar ”ilmu menulis”.
Kedua, tulislah materi dakwah dengan gaya bahasa yang kita miliki. Kalau kebetulan kita seorang penyuluh agama atau muballigh yang sering berceramah dengan sedikit humor, maka tulislah materi ceramah tersebut sesuai gaya ceramah kita. Inilah yang dalam bahasa penulisan, diistilahkan dengan gaya penyampaian. Gaya penyampaian ini, antara penulis yang satu dengan yang lainnya tidak sama, karena tidak ada satu pun gaya penyampaian yang baku.
Ketiga, sebarkan  tulisan kita kepada orang-orang dekat dan dalam bentuk naskah yang paling sederhana terlebih dahulu. Seperti, naskah teks khutbah atau buletin dakwah sederhana yang di fotocopy dan disebarkan secara terbatas. Insya Allah, dibaca atau tidak naskah tersebut oleh orang yang kita beri, kita telah mendapat poin lebih (pahala) atas usaha dakwah yang kita lakukan. Lambat laun, usaha kita tentu saja akan berhasil, dengan syarat tetap istiqomah.
Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita memulai menumbuhkan semangat dakwah bil qolam dalam diri kita masing-masing, terlebih lagi bagi seorang Penyuluh Agama Islam. Begitu strategisnya peran media massa, harus kita jadikan motivasi untuk siap menuangkan materi dakwah kita dalam bentuk tulisan, agar umat Islam, tidak selamanya menjadi konsumen, tetapi harus menjadi produsen media informasi. Wallahu a’lam. http://asepnurdin-bahagia.blogspot.com/2009/12/artikel-menumbuhkan-semangat-dakwah-bil.html