http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/makalah/9006/023.htm
Imam Ali
As tidak berkata demikian bahwa kaum lelaki lebih tinggi dan lebih unggul dari
kaum perempuan baik dari sisi akal juga dari sisi perasaan. Apa yang disebutkan
oleh Imam Ali As tentang kurangnya akal perempuan. Apabila penyandaran tuturan
Baginda Ali As ini ada benarnya, maka hal itu terkait dengan salah satu
peristiwa khusus (perang Jamal) dan bukan merupakan satu hukum universal ihwal
seluruh kaum perempuan. Sebagaimana pada sebagian perkara, sekelompok orang
dari kaum lelaki juga mendapatkan kritikan. Adanya orang-orang jenius dari
kalangan perempuan atau lebih berakal daripada lelaki pada masanya; seperti
Hadhrat Khadijah Khubra Sa, Hadhrat Fatimah Sa dan lain sebagianya merupakan
bukti yang baik bagi klaim ini.
Namun
terdapat beberapa kemungkinan lainnya sehubungan dengan ucapan Baginda Ali As
ini. Misalnya bahwa yang dimaksud Imam Ali As di sini adalah akal kalkulatif
atau akal sosial, bukan akal valuatif yang mendekatkan manusia kepada Allah Swt
dan meraih pelbagai makam spiritual. Dalam akal valuatif ini, tidak terdapat
perbedaan antara perempuan dan lelaki. Atau kemungkinan lainnya adalah bahwa
Imam Ali As ingin menyatakan bahwa dari sisi tipologi kejiwaan,
perasaan-perasaan perempuan lebih mendominasi atas akalnya sehingga apabila
tidak demikian adanya maka perempuan tidak dapat menunaikan tugas-tugas
materialnya dan karena itulah kaum lelaki berada pada sisi berlawanan di
hadapan kaum perempuan. Artinya akal lelaki lebih mendominasi daripada
perasaannya. Dan hal ini merupakan perbedaan-perbedaan pada sistem penciptaan (
takwini)
yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan Ilahi. Adanya perbedaan-perbeaan
ini merupakan suatu hal yang mesti ada. Karena itu, Baginda Ali As tidak berada
pada tataran ingin memberikan kredit poin dan lebih memilih salah satunya atas
yang lain, melainkan pada konteks ingin memberikan laporan sebuah reportase
faktual penciptaan (
takwini).
Sebelum
menjawab inti pertanyaan ada baiknya kita memperhatikan beberapa poin berikut
ini:
1. Peran
tak terbantahkan dan determinan kaum perempuan dalam mendidik dan membina
manusia dalam masyarakat sebagai ibu atau istri dan mitra kehidupan baik dalam
suka atau pun dalam duka merupakan sebuah persoalan yang tidak dapat diingkari
begitu saja. Sedemikian sehingga al-Qur’an menempatkan ketaatan kepada orang
tua setelah ketaatan kepada Allah Swt tanpa membedakan antara pria dan wanita
(ayah dan ibu). Rasulullah Saw juga sangat menaruh hormat kepada Hadhrat
Khadijah Sa dan Hadhrat Fatimah Sa. Hal ini merupakan sebuah hakikat yang
dijelaskan dan ditegaskan oleh Imam Khomeini, bapak pendiri Republik Islam
Iran, “Sejarah Islam adalah bukti atas pelbagai penghormatan yang tidak terkira
Rasulullah Saw kepada Hadhrat Fatimah untuk menunjukkan bahwa perempuan
merupakan sosok besar dan spesial di tengah masyarakat yang perannya sebanding
dengan peran kaum lelaki.
[1]
2.
Pemikiran sebanding dan sederajatnya kuiditas (esensi) perempuan dan lelaki
merupakan pemikiran Qur’ani yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat Ilahi. Perempuan
dalam pandangan al-Qur’an, pada dimensi spritiual dan fisikal diciptakan dari
esensi yang sama dengan esensi lelaki. Keduanya berasal dari jenis esensi dan
kuiditas yang sama.
Al-Qur’an
menyatakan,
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari diri yang satu.” (Qs. Al-Nisa [4]:1) dan pada ayat
lainnya,
“Dia-lah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu.” (Qs.
Al-A’raf [7]:189) Pada kedua ayat al-Qur’an ini, perempuan dari sudut pandang
nilai kemanusiaan sama, setara dan ekual dengan lelaki. Oleh itu, lelaki sama
sekali tidak memiliki keunggulan atas perempuan dalam hal ini. Ruh manusia yang
membentuk hakikat kediriannya bukan badannya. Kemanusiaan manusia dicetak oleh
jiwanya. Bukan raga juga bukan rangkapan raga dan jiwanya.
[2]
Karena
itu, Anda tidak boleh mengenal keduanya dari jenis kelamin kelaki-lakiannya dan
keperempuanannya, melainkan dari sisi kemanusiaannya. Demikian juga, perempuan
dalam pemikiran Qur’ani, sepantaran dengan lelaki, memiliki potensi untuk
meraih kesempurnaan. Dalam pancaran pengenalan dan amalan, perempuan dapat
mendaki dan melewati tangga-tangga kesempurnaan. Al-Qur’an tatkala bertutur
kata ihwal pelbagai kesempurnaan dan nilai-nilai menjulang yang dicapai
manusia, memperlakukan kaum perempuan sama dan setara dengan kaum lelaki.
[3] Al-Qur’an tidak hanya menegaskan persamaan antara
kaum perempuan dan lelaki dalam hakikat kemanusiaan, bahkan pada asasnya
memandangnya sebagai salah satu tanda dan ayat Ilahi, dan kesamaan ini yang
menjadi benih untuk memperoleh ketenangan, harmoni dan cinta kasih.
[4]
Berdasarkan
paradigma inilah Imam Khomeini Ra, bapak pendiri Republik Islam Iran, meyakini
persamaan hak-hak azasi manusia antara perempuan dan lelaki. Beliau dalam hal
ini berujar, “Dari sudut pandang hak-hak kemanusiaan, tidak terdapat perbedaan
antara perempuan dan lelaki; karena keduanya adalah manusia. Perempuan juga
memilik hak untuk menentukan nasibnya sebagaimana lelaki, bahkan pada sebagian
perkara terdapat perbedaan antara perempuan dan lelaki yang tidak ada kaitannya
dengan nilai kemanusiaan mereka.”
[5]
3. Tidak
satu pun riwayat atau khutbah dari Imam Ali As yang menyebutkan bahwa kaum
lelaki lebih tinggi dan unggul atas kaum perempuan baik dari sisi akal atau pun
perasaan.
Apa yang
disandarkan kepada Imam Ali As adalah bahwa kaum perempuan lebih tinggi dan
unggul atas kaum lelaki dari sudut pandang perasaan, emosi dan afeksi.
Adapun
yang disampaikan Imam Ali As pada khutbah kedelapan puluh (87)
Nahj
al-Balâgha, terkait dengan kurangnya akal perempuan dapat dikaji dan
ditelusuri dari beberapa sisi:
Pertama,
dengan asumsi bahwa penyandaran riwayat kepada Imam Ali As ini ada benarnya
maka harus harus dikatakan bahwa hal ini bukan merupakan satu hukum universal
dan mencakup seluruh kaum perempuan. Dari dokumen-dokumen sejarah dapat
disimpulkan bahwa khutbah ini berkaitan dengan peristiwa pasca perang Jamal dan
dalam perang ini, Aisyah adalah salah seorang yang berpengaruh di tengah
masyarakat. Sejatinya Thalha dan Zubair memanfaatkan status sosial Aisyah
sebagai istri Rasulullah Saw dan mengusung peperangan melawan pemerintahan sah
Baginda Ali As di Basrah.
Imam Ali
pasca kekalahan musuh dan akhir peperangan, menyampaikan khutbah yang dimaksud
dalam mengkritisi perempuan.
[6] Karena
itu, dengan memperhatikan beberapa indikasi dan bukti-bukti penting yang
menyatakan bahwa Imam Ali As di sini tidak mengisahkan sebagian khusus
perempuan bukan seluruh kaum perempuan di alam semesta; karena tanpa ragu
terdapat perempuan-perempuan teladan dan jenius serta lebih berakal dari kaum
lelaki pada masanya. Siapa yang dapat mengingkari akal dan taktik kaum
perempuan seperti Hadhrat Khadijah Sa, Hadhrat Fatimah As, Hadhrat Zainab Sa
dan para perempuan besar sejarah dalam memajukan Islam dan perlawanan mereka di
samping kaum lelaki dalam memajukan dan meninggikan kalimat tauhid. Karena itu,
bagaimana dapat dikatakan bahwa maksud Imam Ali As dari khutbah semacam ini
adalah mengkritik dan mencela seluruh kaum perempuan (jenis perempuan)?
Di
samping itu, Baginda Ali As dalam sebagian masalah mengeluhkan kelemahan akal
kaum lelaki Kufah dan Basrah. Beliau menyampaikan beberapa hal dalam mencela
dan menyalahkan mereka. Sebagai contoh, Baginda Ali As dalam khutbah empat
belas (14)
Nahj al-Balâgha bersabda, “Akal kalian telah ringan dan
pikiran-pikiran kalian konyol.”
[7]
Pada
khutbah tiga puluh empat (34), Imam Ali As bersabda, “Celakalah kalian (kaum
lelaki)... Kalian tidak menggunakan akal kalian..”
[8]
Pada
khutbah sembilan puluh tujuh (97), Imam Ali As bersabda, “Wahai orang-orang
yang badan-badannya hadir namun akal-akal mereka gaib (tidak memiliki akal)..”
[9]
Dalam
khutbah seratus tiga puluh satu (131) disebutkan, “Wahai (manusia dengan)
pikiran-pikiran yang berbeda dan hati yang terpecah, yang jasadnya hadir,
tetapi akalnya tidak...”
[10]
Dalam
beberapa hal ini, Imam Ali dengan jelas mencela sebagian lelaki dan
memperkenalkan mereka sebagai orang yang kurang akal dan ringan pikirannya.
Sementara terdapat banyak lelaki dan pria alim dari Kufah dan Basrah serta
mempersembahkan banyak ulama kepada dunia Islam.
Dengan
kata lain, pelbagai kejadian dan peristiwa sejarah dalam satu tingkatan
tertentu tersedia ruang untuk dipuji dan pada tingkatan lainnya tersedia ruang
untuk mencela dan mengkritisinya.
[11] Setelah
berlalunya waktu tidak lagi tersisa ruang untuk memuji juga untuk mencela dan
mengkritisi.
[12] Karena itu,
pelbagai celaan yang disebutkan dalam
Nahj al-Balâgha tentang perempuan
atau lelaki Kufah dan Basrah sebenarnya merupakan satu proposisi personal (
qadhiyah
syakhshiyah).
[13]
Bukti
lainnya terdapat riwayat yang disandarkan kepada Imam As terkait dengan
kurangnya akal kebanyakan manusia. Dalam sebuah tuturan, Baginda Ali As
bersabda, “Rasa takjub manusia (ego sentris) kepada dirinya merupakan pertanda
lemah dan kurangnya akalnya.”
[14] Dalam
hadis ini dan hadis-hadis lainnya,
[15] hal-hal
seperti ego sentris, syahwat, mengikut hawa nafsu dan sebagainya dipandang
sebagai faktor penyebab kurangnya akal. Karena itu, mungkin saja penyandaran
kurangnya akal perempuan juga bersumber dari faktor ini. Dan yang dimaksud di
sini adalah adanya beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya akal mereka khususnya
pada masa tersebut. Faktor-faktor seperti ini karena tidak bersifat esensial
dan bukan merupakan tabiat wanita maka hal itu dapat dihilangkan dengan
pendidikan dan pengelokan jiwa.
Sejatinya
celaan-celaan perempuan seperti ini, tidak berpulang pada inti esensi dan
kuiditas perempuan, sebagaimana pelbagai celaan kepada lelaki tidak berkaitan
dengan inti esensi dan kuiditas mereka. Di samping itu, riwayat-riwayat seperti
ini, pada umumnya memiliki sisi edukatif (pendidikan) dan premonitif (peringatan).
Artinya peringatan kepada kaum lelaki untuk tidak berkepala besar di hadapan
pelbagai instruksi dan keinginan warna-warni perempuan lantaran boleh jadi akan
membuat mereka terjerembab dalam pelbagai kerugian dan konsekuensi buruk
lainnya serta mengandung pesan hingga batasan tertentu bahwa kaum lelaki harus
menjaga mental mandirinya. Terutama pada kondisi-kondisi tertentu, seperti
perang dan pelbagai ketidaknyamanan lantaran mengikuti pikiran dan hawa nafsu
akan menyebabkan terjungkal dan lemahnya mereka. Hal ini sesuai dengan
kondisi-kondisi zaman Amirul Mukminin Ali As.
[16]
Kedua,
dalam suatu ungkapan dapat dikatakan bahwa akal terdiri dari dua jenis:
1. Akal
kalkulatif atau akal sosial.
2. Akal
valuatif (nilai).
Boleh
jadi bahwa yang dimaksud oleh Imam Ali As terkait dengan keunggulan akal kaum
lelaki atas kaum perempuan pada akal kalkulatif bukan akal valuatif. Dengan
kata lain, keunggulan yang bersumber dari pelbagai perbedaan yang terdapat pada
pria dan wanita hanyalah pada akal kalkulatif. Adapun akal valuatif yang
menyebabkan kedekatan kepada Allah Swt dan surga dapat diraiih melalui akal
valuatif ini.
[17] Karena itu,
tidak terdapat perbedaan antara pria dan wanita pada akal valuatif.
[18]
Ketiga,
apa pun yang kita ingkari namun kita tidak dapat mengingkari hakikat ini bahwa
antara dua jenis, baik dari sisi ragawi atau pun dari sisi ruhaninya terdapat
banyak perbedaan yang telah banyak dibahas dan diulas pada banyak buku dan kita
tidak akan mengulangnya di sini. Pendeknya dari semua itu bahwa karena
perempuan merupakan basis keberadaan dan kemunculan manusia, perkembangannya
juga berada dalam pangkuan perempuan, lantaran secara ragawi, kondisi fisik
perempuan lebih cocok dan memang telah diciptakan untuk mengandung (hamil),
membina dan mendidik generasi umat manusia selanjutnya. Dari sisi ruhani,
perempuan juga memiliki saham yang lebih banyak pada hal-hal yang berkenaan
dengan perasaan dan afeksi.
Karena
itu, kedudukan ibu, pendidikan anak dan pembagian kasih dan cinta di antara
anggota keluarga diserahkan kepada perempuan.
[19] Dengan kata lain, sebagaimana yang telah dijelaskan
pada pendahuluan bahwa tidak terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam
masalah identitas nilai-nilai (values) kemanusian. Namun sesuai dengan tuntutan
jenis kelamin mereka beramal secara berbeda-beda. Allah Swt menciptakan
pelbagai entitas berdasarkan hikmah dan sesuai dengan situasi dan tanggung
jawab yang dipikulnya. Pria dan wanita juga tidak terkecualikan dari kaidah
ini.
Pria dan
wanita berbeda dari beberapa sisi antara satu dengan yang lain seperti pada
sisi jasmani, psikologi, perasaan dan afeksi. Kecintaan kaum wanita kepada
keluarga dan perhatian bawaannya terhadap institusi keluarga lebih banyak
daripada kaum pria.
Perempuan
hatinya lebih lembut ketimbang laki-laki. Sabda Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib As berbicara tentang perbedaan-perbedaan kejiwaan dan ragawi antara pria
dan wanita. Sejatinya Imam Ali ingin menyampaikan bahwa perasaan-perasaan
perempuan lebih mendominasi ketimbang akalnya yang apabila bukan karena
dominasi perasaan ini maka ia tidak dapat menunaikan tugasnya sebagai seorang
ibu dan dari sisi ini pria berada pada titik berlawanan wanita. Akal pria lebih
mendominasi atas perasaannya dan perbedaan-perbedaan pada penciptaan
berdasarkan hikmah Ilahi. Adanya pelbagai perbedaan ini adalah suatu hal yang
mesti. Karena itu, Baginda Ali As tidak berada pada tataran memberikan kredit
poin kepada salah satunya, melainkan pada konteks memberikan reportase sebuah
fakta penciptaan bahwa perasaan-perasaan dan afeksi-afeksi kendati pada
tempatnya merupakan sesuatu yang ideal namun pada pelbagai pengambilan
keputusan yang menentukan keduanya tidak boleh didengarkan. [IQuest]
[1]. Shahife-ye Nûr, jil. 14, hal. 200.
[2]. Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl,
Abdullah Jawadi Amuli, hal. 76.
[3]. “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap
dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan
yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs.
Al-Ahzab [33]:35); “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang
beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu
adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang
diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang,
dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan
pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di
bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan di sisi Allah terdapat pahala yang
baik.” (Qs. Ali Imran [3]:195)
[4]. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Rum [30]:21)
[5]. Shahife-ye Nûr, jil. 3, hal. 49.
[6]. Khursyid bi Ghurub (terjemahan Nahj
al-Balâgha), Miadikha, Khutbah 79.
[7]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 14.
"خفّت عقولكم و سفهت حلومكم...".
[8]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 34.
"افّ لكم... فأنتم لا تعقلون...".
[9]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 97.
"أيها القوم الشاهدة أبدانهم الغائبة عنهم عقولهم..."
[10]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 131.
"أيتها النفوس المختلفة و القلوب المتشتته الشاهدة أبدانهم و الغائبة عنهم
عقولهم..."
[11]. Artinya pujian-pujian dan celaan-celaan menjadi
sebab kondisi-kondisi dan peristiwa-peristiwa tertentu pada sebagian perkara.
[12]. Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl,
Abdullah Jawadi Amuli, hal. 368-369.
[13]. Khursyid bi Ghurûb (terjemahan Nahj
al-Balâgha), Miadikha, Khutbah 13 & 14.
[14]. Al-Kâfi, jil. 1, hal. 27, hadis 1, Kitab
al-‘Aql wa al-Jahl.
"اعجاب المرء بنفسه دليل علي ضعف عقله"
[15]. Syarh Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kilam,
jil. 1, hal. 311.
"اعجاب المرءِ بنفسه حمق"
[16]. Lihat, Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl
[17]. Ushûl al-Kâfi, jil. 1, Kitab al-‘Aql wa
al-Jahl, bab 1, hadis 3, hal. 11.
"العقل ما عبد به الرحمن و الکتب به الجنان".
[18]. Zan dar Âiyine Jalâl wa Jamâl, hal.
268 dan 369.
[19]. Silahkan lihat, Tafsir Nemune, jil. 2, hal.
164.